Friday, December 14, 2007

Reunited


Di akhir buku Narn i Chin Hurin (terjemahan bebas: Anak-anak Pak Hurin), kisah tragis Hurin dan Morwen berakhir lebih tragis lagi. Oya, anak2nya Pak Hurin dan Bu Morwen adalah Turin Turambar dan Nienor Niniel.

Setelah Nienor Niniel terjun bebas dari atas jurang tanpa tali bungee,
dan Turin Turambar Dagnir Glaurunga (narsis dot com banget namanya)
mati jantungan karena tiba2 pedangnya, Gurthang, bisa ngomong sendiri,
barulah Morgoth melepaskan ayah mereka, Hurin, dari penjara di Angband.

Hurin tersaruk-saruk melintasi Forest of Brethil, sampai akhirnya tiba
di tempat Turin meninggal. Dan di sana ada seorang perempuan tua duduk
bersandar di batu nisan Turin. Ternyata itu Morwen, istrinya sendiri.

"Eledhwen? Mami? Mamiiii!"

"Huh? Papi? Kok bisa ada di sini?"

"Duh, Mami...Papi cari2 anak2 nggak ketemu."

"Telat, Pi! Mereka udah mati, menderita pula."

"Abis gimana? Papi kan dipenjara dan disiksa Morgoth. Mami dong
harusnya yang cari."

"Mami juga udah jalan kaki ratusan kilometer nyari anak2, Pi, emangnya
selama ini Mami ngapain? Jadi selirnya Thingol? Gak sudi ya! Mami
capek, Pi. Mami juga mo mati aja."

"Lho, Mi, jangan dong....kan kita baru reunited gini, masa udah mo
mati aja?"

"Abisnya Papi udah nggak keren lagi, kayak jembel gitu, Mami males
idup ah."

"Ye! Mami juga udah ompong, bau lagi!"

"Mami mo nyusul Niniel dan Turin ajah! Dadah Papiiii..."
*goleran di tanah*

"Mamiiiiiiiiiii!!!!"

Inilah akibatnya kalo punya anak gampang sewot model Turin...

*celingukan nyari Chris dan Adam Tolkien, takut dibunuh mereka*

Lukisan oleh Ted Nasmith dari www.tednasmith.com

The Saundering of the Elves


Euh...karena baru bahas Narn i Chin Hurin sama adik, jadi maunya berleha-leha posting tentang Middle-earth mulu. Ini tentang Saundering of the Elves, udah dari zaman first age dibahas di milis Eorlingas.

Ada berapa jenis elf yang menempati Middle-earth? Sebetulnya elf
hanya terdiri dari satu jenis pada permulaan zaman. Namun kejadian
yang mengharuskan mereka berangkat ke Blessed Realm (Aman) membuat
mereka menjadi beberapa kelompok.

Quendi (elves) diciptakan oleh Eru dan mereka pertama kali
dibangunkan di Cuiviénen. Karena saat itu Melkor/Morgoth telah membangun
markas gelapnya di Utumno dan Angband untuk memusnahkan segala
makhluk ciptaan Eru, maka para Valar meminta mereka untuk pindah ke
Aman, untuk tinggal dalam lindungan cahaya Two Trees of Valinor,
karena di Middle-earth belum diciptakan bulan dan matahari, hanya ada
cahaya bintang samar-samar. Dipilih tiga pemimpin elf untuk menjadi
ambasador dan yang pertama kali bertandang ke Aman: Ingwë, Finwë dan
Elwë. Kemudian ketiga elf ini meyakinkan anak buah mereka untuk ikut
pindah ke Aman.

Namun ada sekelompok elf yang menolak pergi ke Aman, merasa tinggal
dibawah naungan bintang lebih baik daripada perjalanan panjang dan
melelahkan menuju suatu tempat yang belum jelas. Mereka disebut The
Avari.

Maka dibentuklah tiga kelompok yang berangkat menuju Aman: The Vanyar
(dengan raja mereka Ingwë, yang kemudian menjadi raja elf tertinggi),
The Noldor (dengan raja mereka Finwë) dan The Teleri (dengan raja-
raja mereka Elwë dan Olwë karena kelompok ini yang terbesar
jumlahnya). Ketiga kelompok yang melakukan perjalanan panjang ke Aman
ini disebut The Eldar.

The Vanyar, The Noldor dan sebagian dari The Teleri yang tiba di Aman
disebut Calaquendi (Elves of the Light). Namun sebagian kaum Teleri
tidak sampai ke Aman, dan mereka bersama-sama kaum Avari disebut
Moriquendi atau The Elves of Darkness karena mereka tak pernah
melihat cahaya Two Trees of Valinor. Kaum Teleri yang tertinggal ini
tinggal di Beleriand setelah menempuh setengah jalan menuju Aman.
Namun mereka tetap mengidamkan tinggal di Aman.

Sebagian dari kaum Teleri ini tertinggal karena Elwë, raja mereka,
sempat menghilang beberapa lama karena bertemu dengan sang Maia
Melian dan jatuh cinta padanya. Kemudian ia memutuskan untuk tetap
tinggal di Middle-earth meskipun ia dianggap salah seorang Calaquendi
karena pernah melihat Two Trees of Valinor. Tapi kaum Teleri yang
dipimpin Olwë sebagian berhasil tiba di Aman, meskipun akhirnya ada
juga yang memutuskan untuk menetap di pinggir laut (disebut kaum
Falathrim) dan menguasai seni perkapalan. Pemimpin mereka adalah
Círdan the Shipwright.

Sebagian kaum teleri yang tertinggal di Middle-earth adalah kaum
Sindar (yang tinggal di daratan Beleriand), kaum Nandor (yang tinggal
di sebelah timur Misty Mountains) dan kaum Laiquendi (Green elves of
Ossiriand) yang merupakan sebagian dari kaum Nandor yang kemudian
memasuki daerah Beleriand. Ketiga kaum ini disebut Úmanyar, yaitu
kelompok Eldar yang tak pernah sampai ke Aman. Maka mereka pun
termasuk dalam kaum Moriquendi.

Bingung? Akhirnya sih nggak juga. Tapi inilah awal mula
pengelompokkan elf yang kemudian semakin meluas karena kaum Noldor
akhirnya kembali ke Middle-earth untuk memerangi Melkor/Morgoth yang mencuri
The Silmarils. Dan mereka menempati beberapa daerah Middle-earth
sebagai daerah kekuasaan, terdiri dari banyak kaum dan banyak raja.




Thursday, September 06, 2007

The Music of the Ainur


(dari bahasan di milis Eorlingas)
Draft
Sebelum menulis manuskrip ini dengan lengkap menggunakan pena,Tolkien menulis draft dengan pensil yang ditorehkan secara terburu-buru serta banyak koreksian. Dalam draft ini tampak mula2 bentuk jamak Ainur adalah "Ainu" dan Iluvatar mula2 disebut "Ilu" tapi juga kadang ditulis "Iluvatar". Ulmo ditulis sebagai "Linqil" tapi kemudian dikoreksi menjadi "Ulmo". Valar disebut juga sebagai "Vali"(mungkin bentuk jamaknya pertama kali) dan dalam draft ditulis "Valur" dan "Valir" (mungkin untuk membedakan maskulin dan feminin). Thank God Tolkien abandoned this, karena kalo nggak gue tambah lieur (bahasa Sundarin, artinya puyeng).
Music of Ainur
Rumil bercerita kepada Eriol bahwa yang mengisahkan terjadinya dunia(Arda) adalah Manwe Sulimo, Lord of Elves and Men, kepada nenek moyangnya [Manwe adalah Vala/dewa]. Sebelum menciptakan apa pun, Iluvatar pertama kali menciptakan Ainur dengan nyanyian.
Kemudian Iluvatar menitahkan para Ainur memainkan harmoni musik untuk menciptakan dunia. [Di sini tidak banyak perbedaan dengan hasil akhir Ainulindale di Silmarillion yg ditulis Tolkien 30 tahun kemudian, pun kelakuan Melko yg menyabot musik itu jadi sumbang, lalu pura2 menyesal tapi dalam hati masih mendongkol karena kena omel Iluvatar.]
Setelah menghentikan musik yg dirusak Melko, Iluvatar berkata, "Mighty are the Ainur, dan glorious, and among them is Melko the most powerful in knowledge; but that he may know, and all theAinur, that I am Iluvatar, those things that ye have sung and played, lo! I have caused to be---"
[Dilanjutkan dengan `sumpah-serapah' terhadap Melko yg bandel, dan penjelasan panjang lebar meski para Ainur berkuasa, yang Maha Kuasa adalah Iluvatar. Seperti yg sudah kita ketahui, di Silmarillion kalimat ini dipersingkat tanpa `sumpah-serapah' kepada Melkor:
"Mighty are the Ainur, and mightiest among them is Melkor; but tha the may know, and all the Ainur, that I am Iluvatar, those things that ye have sung, I will show them forth, that ye may see what ye have done..."
Omelan Iluvatar kepada Melkor pun dipersingkat dan diperhalus.]
Setelah itu Iluvatar mengajak para Ainur menuju `void' di mana telah tercipta dunia akibat nyanyian mereka. Dan `Secret Fire' berada dalam inti bumi. Para Ainur benar2 melihat wujud bumi dengan kalimat "even now the world unfolds and history begins." Kemudian Iluvatar berkata makhluk pertama yg akan diciptakannyaadalah Eldar, lalu Manusia. Eldar dikatakan bakal lahir kembali dalam tubuh anak2 mereka (semacam reinkarnasi) dan Manusia diberi `hadiah' kematian. Dan diam2 Melko berencana untuk memerangi Eldar danManusia.
Empat Ainur yang paling kuat adalah Manwe, Melko, Ulmo dan Aule. Mereka segera `turun ke bumi' untuk memebentuknya, Melko tentu saja membentuk daerah2 gelap, gersang dan mengerikan.
Commentary
Sejak pertama kali manuskrip ini ditulis, banyak perubahan terjadi pada hasil akhirnya 30 tahun kemudian. Salah satu perubahan besar adalah bagaimana para Ainur melihat bumi tercipta. Di Book of Lost Tales para Ainur memang melihat bumi berkembang dalam wujudnya, sementara di Silmarillion Iluvatar hanya memberi visi dan kemudian terbentuklah bumi begitu saja setelah ia berkata, "Ea! Let these things Be!"
Perubahan juga terjadi pada terciptanya Valar/Ainur, di Book of Lost Tales ditulis dalam kalimat, "Behold, Iluvatar dwelt alone. Before all things he sang into being the Ainur first..." sementara diSilmarillion kalimat ini berubah menjadi, "There was Eru, the One, who in Arda is called Iluvatar; and he made first the Ainur, the Holy Ones, that were the offspring of his thought..." Di mana perubahannya? Pada kata "sang" dan "thought". Rupanya Eru nggak kebayang oleh Tolkien nyanyi sendirian *dikutuk Eru*
Manwe sudah disebut sebagai `ruler of the airs and wind' serta beristri Varda, Queen of the Stars, dan Eldar kesayangan Manwe adalah kaum Teleri (yg kemudian menjadi Vanyar). Empat Ainur yg paling kuat (the Aratar) kemudian berubah menjadi sembilan tapi tingkatan hirarkinya berubah-ubah sampai pada hasil akhir di Silmarillion (ada empat belas Valar). Manwe dan Varda di Book of Lost Tales dikisahkan memiliki anak, Fionwe-Urion dan Erinti. Erinti kemudian menjadi Ilmare sang `dayang2 Varda' di Silmarillion, sedangkan Fionwe (namanya berubah menjadi Eonwe) menjadi Herlad of Manwe, ketika ide tentang para Valar yg memiliki anak diabaikan Tolkien. Ide tentang Maiar (pembantu Valar, beberapa adalah Istari termasuk Gandalf dan Saruman) sendiri baru muncul setelah bertahun-tahun kemudian.
Alue disebut sebagai `bapaknya' kaum Noldoli dan disebut sebagai pencipta bahasa dan aksara. Sementara di Silmarillion (meski tak disebutkan secara eksplisit) terdapat kesan kaum Noldor lah yg menciptakan bahasa dan aksara dibantu Aule.
Ulmo di Book of Lost Tales dikatakan tinggal di Ulmonan, terdapat di Vai (Outer Ocean) dan pengikutnya terdapat Salmar, Osse dan Onen(kemudian diubah menjadi Uinen) meski di sini mereka juga disebut sebagai Valar, belum menjadi Maiar. Kaum Eldar kesayangan Ulmo adalah kaum Solosimpi (yg kemudian menjadi Teleri).
Sementara di Book of Lost Tales kisah tentang para Ainur/Valar ini disatukan dengan manuskrip "The Coming of the Valar and the Building of Valinor", di Silmarillion penjelasannya dipisahkan menjadi Valaquenta (History of the Valar) sebelum akhirnya menuju kisah Quenta Silmarillion.

The Link between Cottage of Lost Play and Music of Ainur

(dari bahasan di milis Eorlingas)

Dalam buku tulis yang serupa dengan tempat ditulisnya The Cottage of Lost Play, terdapat tulisan tangan Tolkien berjudul "Link betweenCottage of Lost Play and (Tale 2) Music of Ainur". Dalam surat Tolkien (Juli 1964) dia berkata bahwa selama di Oxford (bekerja sebagai salah satu kontributor penulis Oxford Dictionary) dia telah menulis kisah berjudul "Music of the Ainur". Karena Tolkien menerima pekerjaan di Oxford pada November 1918, maka disimpulkan dua tahun telah berlalu sejak dia menulis "The Cottage of Lost Play" sebelum mulai menulis "Music of the Ainur".

Tulisan tentang "Link" hanya terdiri dari satu copy, mula2 ditulis dengan pensil kemudian ditimpa dengan tinta.

Link between CoLP and MotA

Eriol the mariner memutuskan untuk tinggal sementara di Cottage of Lost Play karena ingin mendengarkan kisah tentang permulaan zaman, tentang para Valar dan kebangkitan kaum Eldar. Pada pagi harinya dia berjalan menuju taman di depan pondok, dan bertemu dengan Rumil. Di sinilah Rumil bercerita bahwa dia telah mempelajari semua bahasa, termasuk bahasa binatang. Lama sebelum The Fall of Gondolin [nanti bakal dibahas tersendiri] Rumil menahan derita sebagai budak dalam kurungan Melko [di manuskrip2 berikutnya diubah menjadi Melkor], dengan cara mempelajari semua bahasa monster dan goblin yang tinggal di sana. Maka Eriol memintanya untuk menceritakan kisah tentang para Valar, karena Rumil tampak begitu bijak dan banyak mengetahui sejarah kelahiran dunia beserta perubahan bahasanya.

Rumil berkata bahwa bahasa kaum Eldar bervariasi, bahasa kaum Noldoli berbeda dengan bahasa kaum Solosimpi dan Teleri, bahkan kaum Inwir [kaum Inwir termasuk dalam kaum Teleri yang kemudian menjadi Vanyar]. Tapi sekarang bahasa2 itu telah menyatu menjadi bahasa Elves of the Isle, di mana Eriol berada. Hanya beberapa kaum Noldoli masih menggunakan bahasa mereka, karena sebagian masih berada di GreatLands. Atau bahkan bahasa kaum Noldoli sekarang sama sekali berbedakarena sudah berabad-abad mereka tertinggal sejak perjalanan panjangkaum Eldar dari Kor [kemudian menjadi Tirion upon Tuna di Silmarillion, tapi kota dan bukitnya disebut hanya sebagai Kor], dan tidak kembali ke Tol Eressea. Disebut juga bahwa Gnome-speech berbeda dengan bahasa Elfin of the Eldar. Gnome-speech kini dilarang digunakan kaum Eldar, bahkan bagi mereka yang sejak dulu menggunakanGnome-speech, karena saat ini ratu mereka, Meril-i-Turinqi, berbahasa Eldar. Rumil mempelajari bahasa dan `poesy' [poetry dalam bhs Inggris modern] dari Aule, di Kor. Maka Eriol meminta Rumil bercerita tentang para Valar, siapa mereka dan apa yang menciptakan mereka.

Rumil menjawab bahwa Sang Permulaan adalah Iluvatar, The Lord of Always. Di sinilah pertama kali kisah Ainulindale terdengar oleh telinga seorang manusia mortal.

Commentary

Dalam manuskrip ini pertama kali disebutkan cikal-bakal kisah The Exile of the Noldor di Silmarillion, dilihat dari kata2 Rumil tentang perjalanan kaum Eldar dari Kor menuju Great Lands. Dilihat juga betapa kaum Noldoli (Gnome) agak terkucilkan karena pemberontakan mereka terhadap para Valar, maka bahasa mereka juga berbeda. Dalam manuskrip ini disimpulkan:

1. Kaum Teleri, Solosimpi dan Inwir pada zaman dahulu memiliki bahasa berbeda.
2. Namun dialek mereka menyatu menjadi bahasa Island Elves (TolEressea).
3. Bahasa kaum Noldoli (Gnome) berbeda karena mereka pergi dari Kor menuju Great Lands dan ditawan oleh Melko.
4. Kaum Noldoli yang sekarang tinggal di Tol Eressea telah mempelajari bahasa Eldar dan dilarang menggunakan Gnome-speech, tapi sebagian masih berada di Great Lands.

Sepertinya ketika Rumil membicarakan kaum Noldoli yang tertinggal di Great Lands yang dimaksudkannya adalah mereka yang dahulu berangkat dari Kor dan tak kembali ke Tol Eressea. Tapi mungkin juga maksudnya adalah kaum Eldar yang sejak semula menolak panggilan Manwe menujuValinor dan tak pernah meninggalkan Great Lands.

Di sini mari kita refresh memori kita tentang perbedaan kaum Quendi (elf) di Silmarillion.

Quendi: semua kaum elf yang pertama kali dibangkitkan di Cuivienen di first age.
Eldar: kaum Quendi yang menuruti perintah para Valar untuk tinggal diValinor. Eldar terdiri dari tiga kaum: Vanyar, Noldor dan Teleri.
Avari: kaum Quendi yang menolak pergi ke Valinor.
Calaquendi (elves of the light): kaum Quendi yang tiba di Valinor.
Moriquendi (elves of darkness): kaum Quendi yang tidak pergi ke Valinor, termasuk sebagian kaum Teleri yang tertinggal di Beleriand.
Sindar: sebagian kaum Teleri yang tertinggal di Beleriand.
Nandor: sebagian kaum Teleri yang tinggal di timur Misty Mountains.
Laiquendi: green elves of Ossiriand.
Umanyar: kaum Quendi yang berangkat menuju Valinor tapi tak pernah tiba di sana, maka mereka juga termasuk kaum Moriquendi.

Lengkapnya bisa dibaca pada postingan gue dulu (tahun 2005) di milis ini: http://groups.yahoo.com/group/indo-LOTR/message/2583

Pada manuskrip ini, kaum Eldar (ingat, Tolkien belum memutuskan term `Eldar' sebagai kaum Quendi yang berangkat menuju Valinor dari Cuivienen) terbagi menjadi tiga:

1. Teleri (termasuk kaum Inwir), kemudian diubah menjadi Vanyar.
2. Noldoli (Gnome), kemudian menjadi Noldor.
3. Solosimpi, kemudian menjadi Teleri.

Kaum Eldar yang memberontak tak lagi boleh disebut sebagai Eldar oleh Manwe, maka mereka dikenal sebagai kaum Gnome. Kaum Gnome kemudian menggunakan bahasa mereka sendiri yang terkucil dari kaum Eldar lainnya. Ini bertentangan dengan hasil akhir mitologi di Silmarillion, yang menyatakan bahwa kaum Noldor mengadaptasi bahasa Sindarin ketika mereka kembali ke Middle-earth. Mereka bicara dengan bahasa Valinorean (turunan dari Quenya) di antara mereka sendiri (termasuk children of Feanor) tapi menggunakan Sindarin sebagai bahasa sehari-hari di antara kaum Quendi yang tinggal di Middle-earth.

Lebih lengkap tentang perkembangan bahasa mulai dari Quenya menuju Sindarin (Beleriand-mode dan Tehta-mode) ada di Gateway to Sindarin-nya David Salo. But that's another story, because too much of a good thing can make us drunk and dizzy...hehehe.

Selain perbedaan bahasa kaum Eldar sendiri, Rumil berkata dia mempelajari bahasa dan poesy lore dari Aule, yaitu menggunakan bahasa para Valar. Di sebuah notes kecil Chris Tolkien menemukan catatan:

"The Gods understood the language of the Elves but used it not among themselves. The wiser of the Elves learned much of the speech of the Gods and long treasured that knowledge among both Teleri and Noldoli, but by the time of the coming to Tol Eressea none knew it save the Inwir, and now that knowledge is dead save in Meril's house."

So, the speech of the Gods! Apakah ini berarti Quenya? Atau bahasa yang lain sama sekali? We'll see in the next chapters :)

The Cottage of Lost Play


(dari bahasan di mailing list Eorlingas)

The Book of Lost Tales pertama kali ditulis pada tahun 1916-17 selamaPD I, saat Tolkien berusia 25 tahun, tapi manuskrip ini diabaikan beberapa tahun kemudian. Di sebuah buku tulis Tolkien menulis: TheCottage of Lost Play, which introduceth [the] Book of Lost Tales. Disampulnya tertulis inisial istrinya: E.M.T beserta tanggal 12 February 1917. Di buku ini kisah ditulis tangan oleh Edith, salinan dari manuskrip dalam beberapa lembar kertas yg ditulis tangan oleh Tolkien yg wujudnya lebih berantakan (diselipkan ke dalam buku).

The Cottage of Lost Play

ERIOL, seorang pengembara, berlayar dari daratan jauh [di manuskrip ini masih disebut The Great Lands, later becomes Middle-earth] sampai ke Tol Eressea, yg juga disebut Dor Faidwen (Land of Release) oleh kaum Gnome [kaum Gnome kemudian disebut Noldor di manuskrip2 berikutnya]. Setelah berjalan beberapa hari menembus daratan TolEressea ia tiba di sebuah kota di atas bukit dan tertarik melihat sebuah pondok kecil yg nyaman. Ia mengetuk pintu dengan niat menumpang tidur. Pintu dibuka seseorang dan berkata bahwa pondok itu bernama Mar Vanwa Tyalieva atau Cottage of Lost Play. Tuan rumahnya adalah Lindo dan istrinya Vaire, yg telah membangun pondok itu bertahun-tahun yg lalu. Di sana tinggal banyak sekali teman dan anak-anak tuan rumah. Eriol masuk dan mendapati pondok itu jauh lebih besar daripada kelihatannya.

Selagi makan malam Lindo berkisah bahwa kota ini bernama Kortirion, berada di daerah bernama Alalminore. Ternyata kaum Eldar [saat ini Tolkien belum memutuskan term 'Eldar' adalah kaum elf yg berangkat dipanggil Manwe ke Valinor dari Cuivienen] yg tersisa tinggal di sana. Pulau itu juga pada zaman dahulu memiliki jalan masuk melalui daratan dari Great Lands. Bahkan di sana tinggal pula Rumil, elf tua yg mengaku pernah dirantai dan dikurung oleh Melkor.

[Seperti yg kita ingat, di Silmarillion Rumil tidak jadi bergabung dengan kaum Feanorean yg membelot ke ME setelah Melkor mencuri Silmaril.]

Banyak anak manusia yg bertandang ke Kortirion dan tidak kembali, tapi banyak pula yg kembali dan diingat Eriol sebagai nenek moyangnya yg mengisahkan bahwa zaman dahulu kaum elf masih tinggal bersama kaum manusia. Dimulailah pengalaman Eriol mendengarkan kisah tentang terjadinya Arda, terciptanya para Valar dan Maiar dan perseteruan mereka dengan Melkor melalui Rumil dan Lindo serta Vaire.

Kisah ini bakal gue bahas di bab2 berikutnya, sebisa mungkin diberi penjelasan bagaimana konsep ini berubah dan menjadi Silmarillion.

Commentary

Kisah Eriol the mariner adalah sentral dari konsep mitologi yg dibuat oleh Tolkien pertama kali. Pada masa itu, ia mengaku tujuan utama ia menulis mitologi ini adalah untuk membuat literatur Inggris yg khusus tentang term literatur 'fairie', seperti yg ditulisnya dalam surat kepada sahabatnya Milton Waldman:

"It was from early days grieved by the poverty of my own beloved country: it has no stories of its own (bound up with its tongue and soil), not of the quality that I sought, and found (as an ingredient) in legends of other lands. There was Greek, dan Celtic, and Romance, and Germanic, Scandinavian and Finnish (which greatly affected me); but nothing English, save impoverished chap-book stuff."

Eriol sendiri dikisahkan sebagai kerabat dekat manusia2 legendaris dari North-western Europe. Kisah Eriol ini adalah yg paling ribet dari keseluruhan sejarah ME dan Aman (at least menurut Chris Tolkien), karena sepertinya Tolkien menginginkan Eriol berperan besar sebagai seseorang yg menyaksikan secara langsung kehancuran kaum elf Tol Eressea dan menceritakan kembali legenda kaum elf kepada anak cucunya di daratan. Akhirnya Tolkien mangabaikan konsep ini sebelum selesai.

Namun pada konsep pertama Eriol bukanlah orang Inggris. Inggris dalam konsep pertama ini bahkan belum tercipta. Eriol berasal dari zaman sebelum kaum Anglo-Saxon menginvasi Inggris. Karena faktanya (dalam konsep ini) pulau elf ke mana Eriol tiba (Tol Eressea) ADALAH Inggris. Atau lebih tepatnya, Tol Eressea kemudian menjadi Inggris, dan the Great Lands dari mana Eriol tiba adalah Eropa daratan. Kortirion kemudian akan menjadi Warwick (dilihat dari etimologi, ada hubungan dengan elemen kata 'Kor' dan 'War'), Alalminore akan menjadi Warwickshire dan Tavrobel (tempat di mana Eriol akhirnya tinggal sementara di Tol Eressea) akan menjadi desa Straffordshire di Great Haywood.

Fakta di atas tidak dituliskan secara eksplisit di Book of Lost Tales, tapi ditulis pada catatan2 yg menyertai manuksrip. Maka semakin jelaslah tujuan Tolkien dalam membuat konsep pertama mitologi ini, agar Inggris memiliki 'sejarah' legendanya sendiri, seperti yg telah dikatakannya kepada Milton Waldman.

Lukisan pada cover buku: Andrew Burward-Hoy

Wednesday, May 30, 2007

Nirnaeth Arnoediad

First Age, Hithlum, Middle-earth, saat kaum manusia baru dimunculkan, baru mencapai generasi keempat.

Kaum Eldar (elf) dan Edain (manusia) serta dwarf siap menyerang Angband, benteng pertahanan Morgoth, the first Dark Lord. Dua pasukan yang dipimpin Maedhros (putra Feanor) dan Fingon (Raja kaum Noldor) berada di posisi mereka. Fingon dibantu pasukan manusia dari Dor-lomin, dipimpin Hurin dan Huor, kakak-beradik kaum Hador Goldenhead. Juga pasukan manusia dari Brethil, yang dimpimpin Haldir putra Halmir. Fingon menatap Thangorodrim, pegunungan yang melindungi Angband, dan keraguan meliputinya.

Namun terdengar seruan perang dari arah selatan, dan Fingon tahu bahwa Turgon, adiknya, tanpa diminta dan dipanggil, telah keluar dari daerah kekuasaannya yang tersembunyi, Gondolin, membawa pasukan. Dan ketika Fingon mendengar trompet pasukan Turgon, rasa ragunya lenyap, dan ia berteriak: “Utulie’n aure! Aiya Eldalie ar Atanatarni, utulie’n aure!” (“The day has come! Behold, people of the Eldar and Fathers of Men, the day has come!”)

Perang dimulai. Pasukan Morgoth dari Angband tak terhitung jumlahnya, membanjiri Hithlum, dan pasukan yang lebih besar sudah mulai menjegal jalan pasukan Maedhros, menghalangi para Raja kaum Eldar untuk menyatu. Demi memancing pasukan Fingon, Kapten pasukan Morgoth menyeret seorang sandra dari perang sebelumnya (Dagor Bragollach---The Battle of Sudden Flame) bernama Gelmir putra Guilin, berasal dari Nargothrond. Di hadapan saudaranya, Gwindor putra Guilin, yang berada di garis depan, pasukan Morgoth memenggal tangan dan kaki Gelmir.

Dibutakan kemarahan, Gwindor segera menyerang bersama seluruh anggota pasukan yang berasal dari Nargothrond, langsung masuk ke Angband. Melihat pasukannya yang berapi-api, Fingon akhirnya meniup trompet dan seluruh sisa pasukan menyerbu dari daerah perbukitan. Pasukan Morgoth kocar-kacir, kemarahan pasukan Fingon menyebabkan mereka berhasil menembus gerbang Angband.

Namun Gwindor terjebak dan ditahan hidup-hidup, sementara kaumnya dibantai. Fingon tak sempat membantunya. Dari lorong-lorong bawah tanah Angband, pasukan besar menunggu, siap menyerang dan Fingon terpaksa mundur dengan banyak jumlah korban di pihaknya.

Kemudian di padang Anfauglith, di hari keempat perang, terjadilah Nirnaeth Arnoediad (Battle of Unnumbered Tears). Pasukan Maedhros dipukul mundur, dan lari dari medan perang. Pasukan Fingon mundur di padang pasir, dan di sana Haldir putra Halmir gugur. Pasukan Angband mengepung, dan mereka bertarung tanpa henti dari pagi hingga malam, pasukan Fingon semakin terdesak. Di pagi hari harapan muncul, karena datang pasukan Turgon dari sisi lain, membantu.

Pasukan Turgon membantai pasukan orc dari Angband, menyatu dengan pasukan Fingon. Namun pasukan Angband yang berhasil mengusir pasukan Maedhros kini tiba dan menyerang. Jumlah mereka lebih besar daripada pasukan Fingon dan Turgon. Kapten tertinggi pasukan Morgoth, Gothmog, ada di sana. Ia berhasil memisahkan Fingon dengan Turgon dan Hurin. Kemudian Gothmog bertarung melawan Fingon, satu lawan satu, sementara semua pengawal Fingon telah bergelimpangan tewas di sekelilingnya. Fingon bertarung dengan gagah berani, sampai sesosok Balrog mendatanginya dari belakang, membelitnya dengan cambuk sekeras baja. Kemudian Gothmog mengayunkan kapak hitamnya, menghantam kepala Fingon. Maka tewaslah Fingon putra Fingolfin, Raja kaum Noldor.

Mereka kalah, namun pasukan dari Dor-lomin pimpinan Hurin dan Huor serta pasukan Gondolin pimpinan Turgon masih bertahan. Hurin berkata pada Turgon untuk mundur dan melarikan diri, selama masih ada kesempatan, agar ia bisa menggantikan abangnya menjadi Raja kaum Noldor di Middle-earth. Mula-mula Turgon menolak, berkata bahwa Gondolin tak bisa lagi tersembunyi.

Namun Huor berkata, “Yet if it stands only a little while, then out of your house shall come the hope of Elves and Men. This I say to you, lord, with the eyes of death; though we part here for ever, dan I shall not look on your white walls again, from you and from me a new star shall arise. Farewell!”

Firasat Huor ini benar, karena di masa datang, Tuor putra Huor akan menikah dengan Idril putri Turgon, dan dari mereka lahirlah Earendil, yang beserta kapalnya, Vingilot, disucikan oleh para Valar dan diorbitkan ke langit, menjadi bintang terang.

Maka pasukan Turgon mundur, dilindungi oleh pasukan manusia dari Dor-lomin. Setelah pasukan Turgon berhasil melarikan diri, Hurin dan Huor bertahan, menyambut ajal. Pasukan Angband mengepung mereka, tubuh bergelimpangan, Huor tewas dengan mata tertusuk panah beracun. Tak ada korban sebanyak ini sebelumnya.

Akhirnya Hurin berdiri sendiri, menyambar kapak Kapten orc dan tiap kali ia mengayunkannya ia berteriak, “Aure entuluva!” (“Day shall come again!”). Tujuh puluh kali ia meneriakkan kata-kata itu, tapi ia disandra hidup-hidup, atas perintah Morgoth, yang berniat menyiksanya dengan lebih kejam daripada memberinya kematian. Kemudian Gothmog mengikat Hurin dan menyeretnya masuk ke Angband, dan berakhirlah Nirnaeth Arnoediad. Matahari tenggelam di Hithlum, dan badai menyapu ke arah barat.

Sumber: Silmarillion, Narn i Hin Hurin

Lukisan Fingon dan Gothmog: Ted Nasmith


Friday, January 19, 2007

FËANOR OF THE NOLDOR


Catatan:

Arda: dunia

Aman: benua para dewa

Valinor: kota para dewa

Valar: dewa-dewa (Vala: singular, Valar: plural)

Eldar: kaum elf yang berangkat ke Aman dari Middle-earth pada permulaan zaman

Vanyar, Noldor, Teleri: tiga kaum elf

Hall of Mandos: tempat di mana Vala Mandos mengumpulkan roh-roh elf yang mati

Finwë adalah raja kaum Noldor, tinggal di Valinor (Blessed Realm) pada First Age. Míriel, istrinya, melahirkan anak pertama mereka di istana Finwë di Eldamar. Nama putra mereka adalah Curufinwë, tapi oleh ibunya ia dijuluki Fëanor, Spirit of Fire. Setelah melahirkan, Míriel merasa letih lahir batin sehingga memohon agar nyawanya dicabut saja.

“Never again shall I bear child; for strength that would nourished the life of many has gone forth to Fëanor.”

Míriel membaringkan tubuhnya di taman Vala Lórien, namun rohnya telah pergi ke Hall of Mandos. Finwë menunggu, berharap Míriel kembali, tapi sia-sia. Akhirnya Finwë tidak lagi menunggu Míriel dan menikah lagi dengan Indis dari kaum Vanyar dan memiliki dua putra: Fingolfin dan Finarfin.

Fëanor tumbuh menjadi elf yang tinggi, tampan dan keras hati. Ia mempelajari seni menulis dan menempa, dan terbukti memiliki bakat hebat. Di antara para Eldar ia menjadi yang paling masterful.

Fëanor tidak menyukai pernikahan kedua ayahnya. Ia tidak menyukai Indis maupun kedua saudara tirinya, maka ia tinggal terpisah dari mereka, menjelajahi tanah Aman dan menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan dan seni menempa yang dicintainya.

Suatu ketika, Melkor (Vala yang memberontak), yang setelah memorak-porandakan Middle-earth ditangkap dan dikurung, meminta pengampunan. Manwë, lord of the Valar, memaafkannya. Tapi Melkor tetap diawasi dan tidak diperkenankan meninggalkan Aman.

Meski demikian, Melkor yang tetap membenci kaum Eldar melihat kesempatan untuk memecah-belah mereka. Ia membisikkan cerita-cerita bohong di antara kaum Noldor, yang dianggapnya paling memiliki semangat menyala-nyala. Ia menyebarkan kebohongan bahwa para Valar menginginkan kaum Eldar tinggal di Valinor agar tidak menguasai Middle-earth. Para Valar lah yang ingin menguasai semuanya dan bakal diciptakan pula ras Manusia yang mortal, yang bakal diberi kekuasaan di Middle-earth. Tujuannya adalah memicu pemberontakan kaum Eldar terhadap para Valar.

The Silmarils

Fëanor menempa tiga permata yang diberi nama Silmaril, permata paling indah yang pernah diciptakan. Ia berhasil memasukkan cahaya Two Trees of Valinor (dua pohon yang memberi penerangan di Valinor) ke dalam Silmarils, dan Vala Varda menyucikannya sehingga tak ada tangan-tangan jahat yang bisa menyentuhnya tanpa terbakar. Kemudian Vala Mandos meramalkan bahwa nasib Arda, tanah, laut dan udara, bergantung pada ketiga permata itu.

Melkor tentu saja menginginkan Silmarils dan mulai meracuni Fëanor dengan kebohongan bahwa adik tirinya, Fingolfin, berusaha menyikutnya dari kedudukan sebagai pangeran kaum Noldor, mengambil alih tahta Finwë dan menyingkirkan Fëanor beserta ketujuh putranya. Lama-kelamaan Fëanor mulai termakan hasutan, bicara terang-terangan pada kaumnya bahwa ia tidak mau menuruti perintah para Valar dan akan pergi kembali ke Middle-earth di mana ia bisa berkuasa, mengajak sebanyak mungkin pengikut.

Fingolfin yang khawatir mendesak ayahnya, Finwë, agar menahan Fëanor dan menyadarkannya. Namun Fëanor malah menantang adik tirinya dengan menghunuskan pedang, menyangka Fingolfin memang berusaha menyingkirkannya. Tapi Fingolfin tidak menyambut tantangannya dan pergi menemui adiknya, Finarfin.

Para Valar, mengetahui tingkah Fëanor, menganggap kelakuannya sudah keterlaluan, menjadi arogan dan memicu terjadinya keresahan serta mengepalai gerakan anti Valar di antara kaum Noldor. Maka para Valar menghukum Fëanor dan mengasingkannya selama 12 tahun jauh dari Valinor. Meski Fingolfin meminta para Valar mengampuni abangnya, Fëanor yang congkak tak mengindahkannya dan berangkat ke Utara Valinor, di mana ia tinggal dalam pengasingan bersama ketujuh putranya di perbukitan dan membangun benteng bernama Formenos.

King Finwë, karena cintanya pada putra pertamanya, ikut mengasingkan diri ke sana. Akhirnya kaum Noldor di Valinor dipimpin oleh Fingolfin dan maka, tampaknya kebohongan Melkor seakan benar, bahwa Fingolfin berusaha mengambil alih tahta, meski sebenarnya hal ini terjadi akibat perbuatan Fëanor sendiri.

Fëanor membawa serta Silmarils ke Formenos. Dan Melkor, setelah para Valar mengetahui tindak-tanduknya yang berusaha meracuni kaum Eldar, pergi menyembunyikan diri. Tapi karena masih ingin menguasai Silmarils, Melkor sempat mendatangi Fëanor ke Formenos, berusaha berteman dengannya, dengan harapan akhirnya bisa menguasai Silmarils. Tapi Fëanor mengusirnya.


The Darkening of Valinor

Melkor mencari jalan lain untuk melawan para Valar. Ia membujuk Ungoliant, labah-labah raksasa, untuk menjadi pengikutnya dan membantunya menghancurkan Two Trees of Valinor.

Tiba saatnya diadakan festival pemujaan Eru di Valinor. Manwë, Lord of the Valar, memerintahkan Fëanor untuk datang sendiri. Tapi Fëanor menolak membawa Silmarils yang terkunci rapat di bentengnya di Formenos. Di festival ia bertemu dengan Fingolfin dan Fingolfin mengulurkan perdamaian. Sambil menjabat tangan Fëanor, Fingolfin berkata,

“Half brother in blood, full brother in heart will I be. Thou shalt lead and I will follow. May no new grief divide us.”

Pada saat itu, Melkor dan Ungoliant datang. Ungoliant, yang selalu diliputi kegelapan di mana pun ia berada, menebarkan kegelapan pada Two Trees of Valinor dan Melkor membabat habis keduanya. Secepat kedatangannya, mereka pun pergi. Maka gelaplah Valinor karena kedua sumber cahaya telah mati.

Para Valar bersidang dan meminta Fëanor menyerahkan Silmarils, agar dari cahayanya bisa dibuat lagi pohon cahaya. Namun Fëanor berkata ia takkan melakukannya dengan sukarela, dan jika para Valar memaksanya maka mereka ternyata sama saja seperti Melkor: pencuri.

Tapi saat itu tiba utusan dari Formenos, mengabarkan bahwa Melkor yang diliputi kegelapan telah datang ke Formenos, mencuri ketiga Silmarils dan membunuh Finwë.

The Flight of the Noldor

Feanor murka. Ia menyebut Melkor sebagai Morgoth (the Black Foe of the World) dan juga murka pada para Valar yang telah menyuruhnya datang ke Valinor. Karena dipikirnya, jika ia ada di Formenos, ia bisa mempertahankan Silmarils dan menyelamatkan ayahnya.

Maka ia menyatakan pemberontakan terhadap para Valar dan mengumpulkan kaumnya agar ikut bersamanya mengejar Morgoth ke Middle-earth, berusaha merebut kembali Silmarils. Para Valar melarang mereka pergi, tapi Feanor tak mengindahkan. Banyak sekali kaum Noldor yang terbakar kata-kata Fëanor dan siap mengikuti pangeran mereka berangkat ke Middle-earth.

Fingolfin memutuskan untuk ikut, sebagian karena sumpahnya untuk selalu mengikuti Fëanor, sebagian karena merasa waswas membiarkan rakyatnya dimpimpin oleh Fëanor yang sembrono. Finarfin, dengan alasan yang sama, juga memutuskan untuk ikut ke Middle-earth, meski dirinya dan para pengikutnya adalah mereka yang paling enggan meninggalkan Valinor.

Kemudian Fëanor mengucapkan sumpah yang juga diikuti oleh ketujuh putranya, bahwa mereka akan memburu dan memerangi siapa saja sampai akhir dunia, baik Vala, Demon, Elf, atau Manusia yang belum dilahirkan, atau makhluk apa saja, kecil maupun besar, baik maupun jahat yang berani mengambil Silmarils dari tangan mereka. Mereka akan menderita jika tidak melaksanakan sumpah itu.

Maka berangkatlah kaum Noldor. Kelompok Fëanor berada di barisan terdepan bersama putra-putranya: Maedhros, Maglor, Celegorm, Caranthir, Curufin, Amrod dan Amras. Kelompok yang lebih besar di bawah bendera Fingolfin dan anak-anaknya berjalan di belakang, enggan meninggalkan tanah Aman. Dalam kelompok ini terdapat Finarfin dan anak-anaknya, yang termuda adalah Galadriel.

Kinslaying at Alqualondë

Kelompok Fëanor tiba lebih dulu di Alqualondë, kota tepi pantai yang dihuni elf kaum Teleri, yang merupakan perbatasan Aman dengan laut yang memisahkannya dengan Middle-earth. Kaum Teleri ahli membuat kapal, dan karena untuk tiba di Middle-earth dibutuhkan kapal untuk menyeberang maka Fëanor meminta kaum Teleri untuk ikut atau meminjamkan kapal-kapal mereka.

Tapi King Olwë (raja kaum Teleri yang juga adalah mertua Finarfin) menolak, karena tahu para Valar tidak menyetujui tindakan Fëanor, juga karena mereka mencintai kapal-kapal mereka seperti Fëanor mencintai Silmarils. Fëanor marah dan berusaha merebut kapal-kapal mereka dengan cara menyuruh anak buahnya menyerang kaum Teleri.

Kelompok Fingolfin tiba belakangan, melihat pertempuran anatara kaum Noldor dan kaum Teleri, menyangka kaum Teleri berusaha menghalangi mereka dengan cara kasar. Maka mereka membela kaum mereka sendiri tanpa tahu sebenarnya Fëanor-lah yang memicu peperangan itu. Rombongan Finarfin yang tiba paling belakang tidak ikut dalam pertempuran. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak namun kaum Noldor berhasil merebut kapal-kapal kaum Teleri dan sebagian (kelompok Fëanor) membawanya menyusuri pantai ke arah Utara, di mana celah antara Aman dan Middle-earth paling pendek, sementara sebagian lagi berjalan kaki.

Ketika mereka tiba di Araman, daerah pegunungan bersalju, mereka melihat sosok besar berdiri menatap ke bawah ke arah mereka yang berada di garis pantai. Beberapa menganggap itu adalah Vala Mandos sendiri, yang kemudian mengucapkan kutukan:

“Tears unnumbered ye shall shed; and the Valar will fence Valinor against you, and shut you out, so that not even the echo of your lamentation shall pass over the mountain…”

Keluarga Fëanor dikutuk dan dilarang kembali menginjakkan kaki di Aman, dikatakan mereka akan menderita akibat sumpah mereka sendiri. Kemudian beberapa menjadi ketakutan dan memutuskan kembali ke Valinor, memohon ampun. Finarfin adalah salah satu yang kembali, dan banyak pengikutnya yang kembali bersamanya, tapi anak-anak Finarfin tetap bertekad berangkat ke Valinor, karena tak mau meninggalkan anak-anak Fingolfin. Maka Finarfin menjadi pemimpin kaum Noldor yang tersisa di Valinor.

Fëanor tidak gentar, karena ia tak pernah menjilat ludah sendiri, apalagi melanggar sumpah. Mereka yang terus berangkat terpaksa melakukannya karena sumpah setia pada Fëanor atau takut akan hukuman yang diberikan para Valar jika mereka kembali ke Valinor. Mereka mengikutinya tapi tidak mencintainya. Mereka menganggap Fëanor adalah biang keladi penderitaan mereka.

Akhirnya mereka tiba di Utara Aman, dataran bersalju menuju Helcaraxë, yang kemudian berbelok ke Timur menyambung dengan daratan Middle-earth. Terjadi perdebatan arah mana yang harus mereka tempuh: melalui Helcaraxë, jalan sulit bersalju, atau menyeberangi laut, tapi kapal-kapal tidak cukup untuk mengangkut mereka semua sekali jalan. Suatu malam Fëanor berangkat diam-diam dengan kapal, membawa para pengikutnya yang paling setia, termasuk ketujuh putranya. Mereka menelantarkan kelompok Fingolfin di Aman.

Mereka mendarat di muara Drengist dan berlabuh. Maedhros, putra tertua Fëanor, sempat ingin kembali membawa kapal-kapal ke Aman untuk menjemput kelompok Fingolfin namun dilarang oleh Fëanor, karena menurutnya kelompok Fingolfin tak layak dan telah meragukannya. Maka, di muara itu seluruh kapal kaum Teleri dibakar habis. Fingolfin, dari daratan Aman, bisa melihat di kejauhan kobaran api yang membakar kapal, maka ia tahu Fëanor telah mengkhianatinya. Kelompok Fingolfin kini memiliki alasan baru untuk terus berjuang melalui Helcaraxë menuju Middle-earth: untuk menghadapi Fëanor.

The End of Fëanor

Sementara itu kelompok Fëanor tiba di danau Mithrim dan mendirikan kemah di sana. Namun pasukan Morgoth yang melihat kobaran api dari kapal-kapal yang terbakar di Drengist menyerang mereka tiba-tiba, dan terjadilah Dagor-nuin-Giliath, the Battle-under-Stars, karena saat itu belum diciptakan bulan dan matahari, hanya bintang bertaburan di langit dunia.

Kaum Noldor berhasil mengusir pasukan Morgoth dan membuat mereka kocar-kacir. Namun Fëanor, dengan semangat menyala-nyala, menganggap ia bisa langsung menghadapi Morgoth dan mengejar pasukannya. Ia berada di garis depan, dan tiba-tiba muncul Balrog-Balrog dari Angband (tanah kekuasaan Morgoth di Utara Middle-earth). Fëanor melawan dengan beringas, namun terluka parah. Putra-putranya menyelamatkannya dan membawanya kembali menuju danau Mithrim. Tapi ketika mereka melewati pegunungan Ered Wethrin, Feanor menyuruh outra-putranya berhenti, dan menatap Thangorodrim, menara tertinggi yang ada di Middle-earth, yang didirikan Morgoth di Angband. Ia tahu nyawanya takkan bertahan. Ia mengutuk nama Morgoth tiga kali dan menitahkan ketujuh putranya untuk tetap mempertahankan sumpah mereka; dan Fëanor pun mengembuskan napas terakhir dan rohnya melayang ke Hall of Mandos, takkan pernah keluar lagi. Tapi tak ada pemakaman bagi Fëanor, karena saking berapi-apinya jiwanya, tubuhnya segera menjadi abu.

Maka berakhirlah kehidupan elf Noldor yang paling kuat, yang karena tindakannya membuat kaum mereka terkenal sekaligus dilimpahi bencana. Namun, perjuangan putra-putra Fëanor untuk merebut kembali Silmarils masih jauh dari selesai. But that’s another story…

Monday, October 09, 2006

Elendil and the Faithful

The Island of Númenór

Saat Morgoth akhirnya dikalahkan dan dikurung di Void di luar Arda, ras manusia yang membantu para Valar dan Eldar memerangi Morgoth---kaum Edain---diberikan hadiah berupa usia panjang dan tanah subur untuk ditinggali. Tanah itu berbentuk pulau yang terletak di tengah laut antara Middle-earth dan Tol Eressëa (pulau para Eldar yang merupakan gerbang menuju Valinor). Pulau itu diberi nama Andor (the Land of Gift) atau Númenórë dalam bahasa High Eldarin. Kaum Edain yang tinggal di sini adalah cikal bakal kaum yang kemudian dikenal dengan Dúnedain: Númenórean.

Raja pertama Númenor adalah Elros Tar-Minyatur, saudara kandung Elrond Halfelven yang memilih menjadi manusia dan ia hidup selama 500 tahun, bertahta selama 410 tahun. Mereka sering berlayar menuju Middle-earth mengunjungi para Eldar yang dipimpin Gil-galad (High Elven King), namun tak diperbolehkan berlayar ke barat, ke arah Tol Eressëa dan Aman, tanah para immortal. Karena meski mereka diberi usia panjang, mereka tak bisa menghindari kematian.

Lama kelamaan keturunan Elros yang pewaris tahta mulai bertanya-tanya mengapa mereka tidak diperbolehkan berkunjung ke Aman dan mengapa keabadian hanya diberikan kepada kaum Eldar. Mereka mulai takut akan kematian dan mulai menentang Ban of the Valar, mula-mula secara diam-diam.

The Faithful

Tar-Atanamir, Raja Númenor ke-13 akhirnya berani secara terang-terangan memprotes Ban of the Valar, sehingga kaum Númenorean terbagi dua, mereka yang mengikuti Raja menentang para Valar dan mereka yang disebut The Faithful, yang setia pada para Valar dan tetap ingin berteman dengan kaum Eldar. Para Valar mengirimkan utusan dari Aman ke Númenor untuk meredakan protes mereka dan menjelaskan mengapa mereka harus mematuhi Ban of the Valar. Namun Tar-Atanamir terlalu angkuh untuk bisa diyakinkan.

Maka sejak itu tak ada lagi kaum Eldar yang berkunjung ke Númenor, kelompok The Faithful diam-diam menentang Raja, merindukan persahabatan kaum Eldar. Sebagian dari The Faithful adalah bangsawan kerabat Raja, keturunan Elros tapi bukan dari garis tahta, dan mereka adalah nenek moyang Elessar (Aragorn II), Raja Gondor di akhir Zaman Ketiga.

Pertentangan terus berlangsung sampai akhirnya Ar-Pharazôn, Raja Númenor ke-24 dan terakhir, melakukan kesalahan fatal. Ia adalah Raja yang paling kuat dan paling angkuh, memusuhi kaum Eldar, menetang Valar dan juga memerangi Sauron yang kala itu kembali menebarkan kekuatan jahatnya di Middle-earth. Ar-Pharazôn merasa kaumnya lah yang harus menguasai Arda, bukan Sauron. Maka ia pergi ke Middle-earth, menangkap dan menyandra Sauron di Númenor.

Sauron yang waktu itu masih bisa menampakkan wujud mirip kaum Eldar (tampan dan memesona) tentu saja sengaja menyerahkan diri pada Ar-Pharazôn dengan niat menghasutnya lebih jauh untuk memerangi para Valar. Sauron dengan kata-kata manis dan pujian berhasil mengambil hati Raja dan para penasihatnya. Kecuali satu, Amandil.

Amandil adalah Lord of Andunië, kota paling barat Númenor, yang adalah kerabat Raja sekaligus penasihatnya. Ia juga diam-diam adalah pemimpin kelompok The Faithful. Mencurigai niat Sauron, ia memerintahkan putranya, Elendil, dan kedua putra Elendil, Isildur dan Anárion, untuk mempersiapkan beberapa kapal di pelabuhan Rómenna, yang menghadap ke timur ke arah Middle-earth. Jika terjadi bencana akibat hasutan Sauron, Elendil harus segera memimpin kelompok The Faithful melarikan diri dari Númenor menuju Middle-earth.

Amandil sendiri akan berusaha meminta pengampunan dari para Valar karena perlawanan Ar-Pharazôn, maka ia berlayar menuju Aman bersama beberapa pelayan setianya. Namun keajaiban seperti itu hanya terjadi satu kali pada Eärendil, sehingga nasib Amandil dan para pelayannya tak diketahui lagi setelah mereka berlayar menuju Aman. Sementara itu Ar-Pharazôn membangun ratusan kapal dan mengumpulkan pasukan untuk menyerang Aman, atas hasutan Sauron. Tapi kelompok The Faithful menolak panggilan Raja untuk memerangi kaum Eldar dan para Valar, mereka menunggu di Rómenna.

Begitu pasukan Raja menjejakkan kaki di Aman, di mana kaum Eldar sudah meninggalkan pantai, Eru Illúvatar mengutuk mereka, menyebabkan air pasang dan bumi terbelah, menenggelamkan semua pasukan termasuk Ar-Pharazôn, laut mengamuk menenggelamkan pulau Númenor. Seluruh kebudayaan dan kekayaan kaum Númenor musnah diterjang ombak.

Tapi kelompok The Faithful berhasil selamat melarikan diri ke Middle-earth, di mana Elendil mendirikan kerajaan kembar, Gondor dan Arnor. Elendil memimpin Arnor sendiri, sementara kedua putranya, Isildur dan Anárion, memimpin Gondor bersama-sama.

Sementara itu Sauron, yang kembali terkalahkan dan kini tak bisa lagi berubah wujud (sekarang berwujud mengerikan) tidak mati karena ia bukanlah manusia mortal melainkan Maia, rohnya terbang menuju Middle-earth dan bersarang di Mordor. Sampai akhirnya ia kembali menyerang manusia dan kaum Eldar memicu terjadinya the Last Alliance antara manusia dan elf, memerangi Sauron di akhir Zaman Kedua. Di perang inilah Elendil dan Gil-galad menemui ajal mereka. Tahta Gondor kini dipegang oleh Isildur, yang mengambil pecahan Narsil, pedang Elendil, untuk memotong jari Sauron yang mengenakan the One Ring.

Namun Isildur, yang tentu bakal mengecewakan ayahnya, tak mengindahkan saran Elrond Halfelven yang waktu itu ikut berperang untuk memusnahkan the One Ring ke kawah Mount Doom. And you all know the rest of the story…

Thursday, August 31, 2006

The New Shadow

Suilad mellyn nin,

di buku The Peoples of Middle-earth Christopher Tolkien menyertakan
sebuah kisah yg ditulis oleh sang profesor tapi akhirnya diabaikan.
Ada tiga manuscript yg ditemukan Christopher: manuscript A, manuscript
B (beberapa kalimat diubah dari manuscript A) dan manuscript C
(ditulis dari awal seperti manuscript B disertai beberapa perubahan
lagi tapi berakhir di tengah2nya).

Kisah ini hanya menampilkan dua tokoh, seorang pemuda Gondor bernama
Egalmoth (manuscript A) diubah namanya menjadi Arthael (manuscript B)
dan diubah lagi namanya menjadi Saelon (manuscript C) dan seorang pria
tua bernama Borlas.

Dimulai dengan kalimat: "This tale begins in the days of Eldarion, son
of that Elessar whom the histories have much to tell", bercerita
tentang datangnya 'New Shadow' yg mengancam keamanan dan kesejahteraan
masyarakat Gondor. Terutama disebabkan oleh kalangan mudanya. Borlas
adalah putra dari Beregond, Kapten Pengawal Prince Faramir yg pertama.
Borlas tua masih ingat zaman kegelapan dulu, saat ayah sang Raja
melawan kekuatan Sauron.

Dari percakapan antara si pria tua dan Saelon, si anak muda, terungkap
bahwa Borlas telah mendengar kabar tentang sebutan 'Herumor'. Herumor
ini mungkin saja gerakan pemberontak, yg dibisikkan dengan takut2 di
kalangan anak muda. Borlas bertanya pada Saelon apakah dia pernah
dengar atau tahu sesuatu tentang Herumor. Saelon hanya meminta Borlas
untuk ikut dengannya malam nanti, berpakaian hitam2, pergi bersamanya
menuju ke suatu tempat di mana ia berjanji akan memberitahu Borlas
tentang Herumor.

Borlas gugup tapi kepingin tahu. Ia setia pada raja Eldarion dan salah
satu keputusannya untuk ikut adalah karena ingin memata-matai, jika
benar Saelon ada hubungannya dengan gerakan Herumor itu.

Sayangnya, kisah berakhir hanya sampai di sini. Sang profesor tidak
meneruskan karena ia menganggap kisah ini percuma untuk diceritakan.
Bakal jadi thriller yg bagus, memang, tapi percuma. Mengapa diputuskan
begitu? Karena sang profesor menganggap kisah sudah berakhir pada
kejatuhan Sauron. Titik.

Monday, July 31, 2006

My Tengwar Name













Can you read those letters? It's Arwen Undomiel, in Tengwar Sindarin Tehta-mode! Well, actually Undomiel has to be written in Quenya-mode, but since I only manage to learn Sindarin Tehta-mode so far, it'll have to do *grins*. The Arwen part is correctly written, though.